Dzikir pertama (terjemahan) :
Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah yang maha Agung dan Maha Penyantun
Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, Rabb arsy yang besar
Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, Rabb langit, bumi dan ‘arsy yang mulia.
(HR. Imam Bukhari, no.6346 dan Imam Muslim, no. 2703)
Dzikir kedua :
Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan, maka janganlah Engkau bebankan diri ini kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah semua keadaanku, tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau (H.R. Abu Daud dan hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Abani Rahimahullah)
Kalau kita perhatikan, semua untaian dzikir dalam hadits-hadits di atas atau yang lainnya, kita dapati bahwa semua merupakan ungkapan keimanan, tauhid, keikhlasan dan jauh dari kesyirikan, yang kecil apalagi yang besar. Ini menunjukkan bahwa obat kesusahan yang terbaik adalah tajdidul iman (memperbaharui keimanan), mengulang-ulang kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLALLAH. Karena tidak ada yang lebih ampuh dalam menghilangkan kesusahan dari hati seorang hamba dibandingkan tauhid dan merealisasikan ibadah. Ketika hati seorang hamba penuh dengan tauhid, maka segala macam kesusahan akan sirna dan dia akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Tauhid merupakan perlindungan para musuh Allah subhaanahu Wa Ta’ala dan juga para wali-wali Allah subhaanahu Wa Ta’ala. Tauhid menyelamat musuh-musuh Allah subhaanahu Wa Ta’ala dari kesusahan dan kesengsaraan dunia. Allah subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut/29:65)
Sedangkan para wali Allah, maka mereka diselamatkan dari kesusahan dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, nabi Yunus ‘Alaihis Salaam berlindung kepadanya sehingga Allah subhaanahu Wa Ta’ala menyelamatkannya dari kegelapan tersebut, begitu juga pengikut para rasul, mereka juga berlindung kepadanya sehingga mereka terhindarkan dari siksa yang disediakan oleh orang-orang musyrik di dunia dan juga siksa yang telah disediakan oleh Allah subhaanahu Wa Ta’ala di akhir.” (al-Fawa’id, hlm. 95)
Diangkat dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkar, Syaikh Abdurrahzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, vol. 3, hlm. 180
Source : Majalah As-Sunnah No.07-Thn.XIV Dzulhijjah 1432 H November 2010 M


